Total Pageviews

Saturday, November 3, 2012

Alunan Ombak Menuju Pulau Penyengat Warisan Budaya

x
Hujan yang mengguyur Kota ini sejak pagi hari tidak mengurungkan niat ku unuk tetap lmelangkahkan kaki menuju pulau yang dikenal sebagai Pulau Indera Sakti ini, ebuah pekerjaan hati dan jiwa yang mesti di tunaikan lah membuat lani ringan walaupun di guyur hujan. pekerjaan yang di landaskan cinta dan tanggung jawab mra  l pun menjadi sebuah topik yang saya ketengahkan kepada temen yang tergabung dalam sebuah forum diskusi di Blackbery Messenger. sebuah photo yang saya upload di forum ini ada suasana galau dan kerisauan hati melihat kondisi perahu atau kapal yang disebut pompong oleh masyarakat yang sangat bertolak belakang dengan nama besar dan harumnya Pulau yang di Juluki "mas kawin" ini. ketenaran dan gaungan ikon Provinsi Kepulauan Riau tidak sebanding dengan kondisi kapal yang menjadi alat transportasi utama dan satu satunya menuju dan kembalimua dari Pulau ini. diskusi kami pun berlanjut bagaimana menjadikan Pulau ini menjadi sebuah ingatan dan kenangan orang banyak ataks segala kehebatan dan keunggulan yang dimiliki Pulau yang hanya satu satunya di dunia ini memiliki berbagai peninggalan sejarah dan tradisi. sebut saja Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat yang konon di bangun dengan semangat gotong royong dan uniknya lagi di bamgun dengan campuran putih telur. 2 orang yang di nobatkan sebagai Pahlawan Nasional di semayamkan di Pulau ini Beliau ada Raja Haji Fisabillilah Bin Daeng Celak dan Raja Ali Haji bin Raja Ahmad (mari kita hadiahkan Alfatihah buat mereka). Karya karya seni dan tradisi masih lagi kental di kalangan masyarakat menjadikan masyarakat di pulau ini hidup dalam lingkungan kekeluargaan yang erat.

Kembali kepada perihal kegalauan kami atas beberapa hal yang perlu dilakukan perbaikan dan sentuhan sentuhan tangan dingin untuk menyelaraskan keharuman Nama Pulau Penyengat ini di bumi Nusantara. hal hal yang menjadi kegalauan itu antara lain :

  1. Pelabuhan yang terkadang semerawut dengan belum tersedianya sarana parkir yang memadai untuk kendaraan roda dua yang terparkir di sepanjang pelabuhan.
  2. Sarana transportasi pompong. ini lah yang menjadi dorongan hingga Aku menuliskan catatan ini. kondisi yang tidak beratap disaat hujan menjadi kegalauan yang meninggi di dalam perjalan semua penumpang merasa risau dan was was dengan kondisi kapal ini ditambah lagi istri ku tak pandai berenang. namun permasalahan pompong ini saya yakin sudah pernah di coba cari solusi nya oleh pejabat negeri ini, namun kenyataannya memang metode dan solusi yang di beri belum menuntaskan masalah, 
  3. Sampah yang berserakan menjadi pemandangan yang menjijikan saat tiba dan hendak meninggalkan Pulau ini
  4. pemeliharaan Situs sejarah yang tid ak konsisten yang lebih memproritaskan membangun fisik dibanding membangun jiwa semangat kepedulian.
  5. sarana Becak yang terkesan asal ada aja 
Berbagai permaslahan diatas saya yakin dan percaya pihak pemerintah sudah berupaya dengan segenap kemampuan anggaran dan program sudah dilakukan namun tetap saja hasilnya memprihatinkan. Kondisi di lapangan yang sering dikeluhkan oleh wisatawan yang saya bawa saat berkunjung di Pulau ini yang berkeluh kenapa begini ? kok nggak di rawat ? kok jorok kok ? nggak ada tempat makan khas Melayu ? masih banyak lagi keluhan yang semua mereka sampaikan berdasarkan rasa cinta terhadap peninggalan sejarah yang ada. 

Obeservasi saya di lapangan melihat bahwa Pulau Penyengat membutuhkan pembangunan yang di titik beratkan kepada membangun "Jiwa" atau 'software" nya khususnya pelaku yang terlibat langsung dalam proses terjadinya kegiatan wisata di Pulau ini sebagai bagian dalam menggerakkan ekonomi masyarakat untuk tujuan kesejahteraan. Berbagai upaya yang dilakukan selama ini lebih menitik beratkan pada pembangunan fisik atau bangunan saja tanpa membangun jiwa dan semangat rasa kepedulian masyarakat dan pelaku akan pentinya peran mereka dalam melestarikan benda cagar budaya dan juga menjaga lingkungan termasuk meminimalisir damfak pembangunan pariwisata itu sendiri

"Community base tourism" merupakan sebuah konsef tepat di kembangkan di Pulau ini dimana masyarakat lah sebagai subjek dalam menggerakan kegiatan wisata yang pada akhirnya akan meningkat kesejahteraan.

Semoga walikota yang baru ini mampu membawa kita kepada Masyarakat yang "Sadar Wisata" yang peduli terhadap lingkungan, cinta terhadap warisan budaya dan sejarah serta mampu meningkatan ekonomi rakyatnya sehingga akan tercipta suasana damai dan harmonis.


No comments:

Post a Comment