Total Pageviews

Tuesday, January 25, 2011

Mendulang Mutiara di ujung Utara

Siapa saja akan merindukan dan berkeinginan untuk memiliki mutiara, benda yang walaupun bentuk dan ukurannya kecil namun harganya bisa selangit. Di Kepulauan Riau juga memilki "Mutiara" bak kemilau bagai sinar yang benderang. Mutiara ini aku rasakan saat melakukan serangkaian kerja (tour of duty) mencontek judul sebuah film, perjalanan ke Kabupaten yang diujung Provinsi Kepulauan Riau ini  harus di tempus dengan menggunakan pesawat Riau Airlines namun sekarang ada penerbangan Sriwijaya juga dari Batam. Perjalanan dari Tanjungpinang akan di tempuh lebih kurang 1 jam dengan pesawat RJ 100 milik maskapai Riau airlines, namun sekarang sudah pakai pesawa yang lebih besar Boing 737-500. Mutiara di Ujung Utara ini merupakan selogan yang di publikasi oleh Pemerintah Natuna melalui Dinas yang mengurus kepariwisataan di negeri ini. Awalnya sebelum menginjak kan kaki di Kabupaten ini saya masih bisa menggambarkan Mutiara seperti apa yang ada diujung utara ini.

Setibanya di Kota Ranai yang menjadi Ibu Kota Kabupaten Natuna ini kami mendarat di Bandara Ranai yang merupakan milik Angkatan Udara. Mometum dengan kesederhanan lapangan udara yang ada ingin kami abadikan untuk merekan setiap wajah dan ruang. Namun sayang sungguh di sayang di bandara ini tidak boleh mengabadikan gambar kata petugas di situ... Kawan ku di panggil petugas gara gara memotret momentum itu ...namun dengan berbekal sbuat surat yang cukup berguna yang sengaja saya persiapakan untuk kalau kalau ada yang bertanya, dan ternyata ampuh juga surat sakti itu

Petang itu setelah menitip bekal perjalanan di hotel Kaisar (mungkin maksudnya Caesar Palace) yang terkenal dengan arena tinju di Amerika itu sebuah hotel yang terbaik di Kota ini menjadi tempat kami bermarkas selama melaksanakan misi "Mendulang Mutiara di Ujung Utara", kami langsung menuju sebuah perbukitan yang tinggi persisnya di sebelah sau tower Navigasi . Pemandangan unik dengan batu batu besar menempel kokoh di tebing yang terjun ke laut, kalau lah ada sebuah restaurant di kemas dengan nuansa musik tradional dan makanan dengan cita rasa lokal dengan asam pedasnya dan Ikan Krapu yang segar merupakan kesan dan pengalaman yang tidak terlupakan saya rasa sebuah bangunan telah berdiri tegak di sekita puncak bukit itu dan kami pun berkesempatan singgah di sana atas kebaikan dari Bapak Bapak yang kami kenal saat berkunjung di Masjid Agung, salah satu dari mereka yang juga ketua MUI itu masih memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pemilik Bangunan di Puncak Bukit itu. Pemadangan kota Ranai, Gunung Raia, Pulau Senoa hingga seluruh penjuru bisa di pandang melalui bangunan yang bertingkat 3 itu. Kesempatan ini kami abadikan melalui kamera kecil yang menjadi kawan utnuk mengabadikan perjalanan itu. di Bukit ini saya melihat "Mutiara yang masih terpendam" Itu. Petang itu sambil menunggu berbuka puasa kami sempat memandang betapa indahnya pemandangan kota ini. Ikan Krapu Goreng dan Kolak menjadi santapan berbuka Puasa.

Masjid Agung Natuna
Kemilau lampu komplek Masjid Agung yang "Subhanallah" besar dan Agung itu menjadi gemerlap malam dengan kumandang Ayat ayat Allah yang di bacakan oleh Imam Masjid ini yang bersama jamaah yang menunaikan shalat tarawih. pada keesokan harinya nya setelah shalat subuh selesai kami sempat mengabadikan pilar pilar, dinding dan kubah seta ornamen yang ada di dalam Masjid yang saya kira merupakan masjid yang paling termegah di Negeri Segantang lada ini. Kesempatan ini lah kami bertemu dengan pengurus masjid yang sangat ramah dan banyak memberikan kami kemudahan kemudahan untuk mencari Mutiara mutiara yang ada di Kabupaten ini.

Pagi itu kami berangkat setelah sahur sebab ingin mengejar seperti apa "sang surya" bersinar di pagi hari. permukaaan laut yang hening di tepi pantai yang berseberangan dengan Pulau Sahi kami menghentikan perjalanan untuk mengambil nuansa pagi yang damai. Perjalanan darat menelusuri Pulau Bunguran itu pun kami lanjutkan dengan menggunakan sebuah mobil menelusuri tepi pantai di sisi kiri jalan. Sejuba, Tanjung, Pulau Sahi, hingga jalan pun habis di ujung utara kampung Buton. jalan yang belum di aspal membuat perjalanan ini teras berpetualang dan kami sempat berhenti sejenak untuk mengambil momen untuk di abadikan di Tanjung Datuk. Potensi pantai luas di Pengadah dengan pantai yang ditumbuhi dengan ilalang dan beberapa phon nipah, menurut cerita orang lokal bahwa ada sebuah sungai kecil diantara pantai yang terdapat di lokasi ini merupakan alur turunyanya orang "bunian" pada masa itu, menjadikan keunikan tersendiri yang perlu di gali cerita tentang orang "bunian" ini. Kami temukan mutiara lain di Pulau ini.

Di Pulau ini juga memiliki pelabuhan besar yang bisa di singgahi oleh Kapal kapal besar seperti kapal Pelni, Selat Lampa orang orang setempat menyebut nama tempat itu. sebuah pulau kecil di depan Selat Lampa ini kami terjun untuk melihat keindahan bawah lautnya dengan karang karang terhambar tempat dimana ikan ikan bermain dan bercanda gurau. namun sangat disayangkan cukup banyak karang karang yang ada sudah rusak akibat ulah ulah orang yang ingin mengambil keuntungan tanpa memikirkan masa depan ekosistem laut. Mutiara yang malang ......

Kami juga berkesempatan untuk melihat begitu megahnya bangunan Kantor Bupati yang berdiri kokoh diatas sebuah bukit, dari dua banguan yang saya temukan di pulau ini komplek Masjid dan komplek perkantoran Kantor Bupati saya berpikir begitu makmurlah masayrakat disini atas Mutiara Mutiara di Ujung Utara ini. hasil yang diperoleh dari mutiara mutiara itu lah negeri ini bisa memiliki bangunan megas dan kokoh

Tak terasa  5 hari kami di sana sesuai rencana kami hanya 5 hari saja namun karena pada hari dimana kami hendak kembali ke Tanjungpinang, sambil menunggu pesawat kami menyempatkan diri untuk melihat kawasan pelabuhan barang di sekitar bandara namun akibat cuaca Buruk pesawat yang kami tunggu pun tidak bisa “landing” berhubung bandara tidak memiliki lampu navigasi yang cukup untuk membantu pesawat landing

Mutiara mutiara yang berserakan di Ujung utara ini membutuhkan pendulang pendulang yang bijaksana untuk menjadi kan mutiara yang bersinar yang menerangi kesejahteraan masyarakat dan menjaga keseimbangan alam untuk masa depan yang lebih baik dan berkepenjangan . Mutiara mutiara yang terhampar di wilayah ini sangat membutuhkan tangan tangan yang sabar dan terampil sehingga menjadikan daya tarik bagi semua orang untuk melihat dan menikmati keindahan dan kemilau Mutiara di Ujung Utara


SS

Tuesday, January 11, 2011

"Memperkosa" keperawanan pariwisata Kepulauan Anambas

Membaca judulnya sepertinya orang berpikir bahwa yang menulis artikel ini tidak ada kata kata lainnya untuk mengungkapkan pemikiran yang dimiliki, dan mungkin banyak orang akan terkejut .... Memang sulit untuk bagi saya mencari kata yang paling tepat dalam mengantarkan pemikiran saya untuk menyajikan buah pemikiran ini kepada khalayak ramai. kata perkosa disini saya rasa paling pas buat cerita yang mau saya tuliskan ini.  pelaku pemerkosaan selalu hilang akal sehat nya ketika melihat seseorang yang ingin ia jadikan korban pemerkosaannya baik itu sendiri maupun beramai ramai. apakah korban nanti akan di gilir atau di perkosa secara bersama sama. Ada daya tarik tersendiri yang membuat si pemerkosa sangat bernafsu untuk melakukan tindakan dalam memuaskan dirinya setelah melakukan perbuataany tersebut. Nilai sebuat perawan memang menjadi sesuatu yang berharga dan memiliki cita rasa yang diinginkan banyak orang. "kata perkosa" menjadi yang sangat tepat karena memang pesan yang ingin disampaikan pun ada kesamaan dilakukan dengan paksa pada beberapa unsur dalam kegiatan yang dimaksud, Pemerkosaan merupakan kata yang paling cocok untuk menjadikan khiasan dalam cerita yang ingin saya hantarkan ketengah tengah khalayak ramai yang ingin meningkatkan kesejahteraan rakyat. Inilah kisah pemerkosaan itu ........

Pesawat foker 50 milik RAL menjadi transportasi vital
Perjalanan saya yang pertama ke Kepulauan Anambas bermula pada saat Bulan Puasa di Tahun 2009 bersama pengusaha dan pejabat tinggi di negeri tercinta ini untuk melihat lebih dekat potensi kepulauan yang baru saja menjadi Kabupaten yang termuda di Provinsi Kepulauan Riau negeri Segantang lada. Perjalanan menuju Tarempa kami tempuh dengan menggunakan pesawat charter dari Bandara Ranai Natuna, pengalaman yang baru pertama sekali menikmati pewawat chater khusus dan bepergian dengan pejabat tinggi, di sambut oleh Pejabat daerah dengan pengawalan yang ketat saya berpikir terkadang bagi saya enak juga ya jadi pejabat. perjalanan udara 45 menit itu
 kemudian di lanjutkan dengan menggunakan boat dengan berkecepatan tinggi yang juga di telah dipersiapakan pemerintah Anambas untuk membawa kami ke Pulau Tarempa ibu Kota kabupaten ini. di Kota ini lah rombongan di jamu di satu ruangan yang sangat sederhana. kesederhanaan itu memang sangat kami rasakan di ruangan pertemuan yang tidak menggunakan AC kata mereka Listrik sering mati dan untung saat itu pemaparan yang di lakukan oleh Sekertaris Daerah (Sekda) bisa menggunakan power point dan infocus. "Luar Biasa" itulah kesan yang bisa saya sampaikan melihat Pulau Bawah yang di photo dari udara, Pantai dengan pasir putih, potensi bawah laut yang memiliki karang dan biota lautnya dengan penyu di salah satu pulau di depan pulau tarempa saya lupa namanya. perjalanan ini pun kami akhiri dengan kembali ke Ranai untuk melanjutkan tugas kami mendampingi sang photographer dari negeri jiran Malaysia untuk menggambar situasi potensi kepariwisataan di Natuna 

Pemandangan Kota Tarempa dari Bukit
Setelah 1 (satu) minggu kemudian Perjalanan saya dan sang photographer ke Kepulauan Anamabas yang kedua adalah khusus untuk memotret dan melihat potensi potensi yang telah di paparkan sebelumnya oleh pejabat negeri itu.
Perjalanan yang memberi hikmah yang besar dan bersejarah bagi saya. perjalanan di bulan ramadahan dengan menjalankan ibadah puasa menambah kekuatan kesabaran dan rasa syukur ku kehadirat Ilahi dengan menikmati indahnya pemandangan di Kepulauan yang masih perawan itu. Perjalanan dimulai menuju air terjun temurun dengan keunikan 7 tingkat.
Air Terjun Temurun di Pulau Siantan
Kampung di pesisir Kepulauan Anambas
Setelah itu menuju pulau dengan pasir putih yang terbentang luas di sela sela perjalanan kami berhenti untuk turun ke laut untuk ber "snorkling" mengapung dipermukaan laut dengan mata tertuju kepada biota laut dan karang karang yang berwarna warni dengan ikan ikan kecil. waow indahnya ikan naimo bermain di rumput laut yang di hiasi karang karang menjadi pemandangan yang mengasyikan. namun sangat di sayangkan rupanya bawah lautnya sudah banyak yang "diperkosa" oleh tangan tangan yang tidak bertanggung jawab. menangkap ikan krapu yang harganya mahal itu di lakukan dengan cara menaburkan racun racun untuk membuat mata ikan itu buta sesaat sehingga karang karang laut pun ikut rusak.

Snorkeling menjadi aktivitas yang terpopuler jika di kemas dengan baik
Pandangan bawah laut dengan air yang bening ini menambah pengalaman ku akan kecantikan Kepulauan Anamabas. pemotretan potensi juga dilakukan di bawah air dengan mendatangkan photographer profesional dari Kuala Lumpur yang datang kemudian menyusul kami. itu pun sulit bagi kami untuk mencari pemandu wisata bawah laut ini yang akhirnya ada satu pengelola yang biasa katanya untuk kegiatan bawah laut ini. hasilnya ada beberapa phot yang bagus. sang "diver" menyampaikan bahwa potensi bawah laut di sini bagus khususnya untuk ikan ikan yang besar dengan karang karang keras dengan konstruksi batu karang yang terjal.
Potensi bawah laut Kepulauan Anamabas
namun mereka sangat menyayangkan tidak ada pengelola yang profesional dengan tawaran paket paket yang potensi bawah lautnya sudah di ketahui dengan pasti dengan bantuan alat alat modern dan canggih, sebab pada saat itu sang "captain" boat kami hanya menggunakan sistem tradisional dengan menggunakan pandangan mata "prapat" istilah nya dengan melihat dari sisi sekitar dan menduga duga "kayak nya disini ni tempatnya". 

Nelayan lokal mencari Ikan Krapu
Sejak dini anak anak sudah dilatih untuk hdup di lautan
 

Sun Rise di Kota Tarempa
Hari selanjut nya setelah menyelesaikan sahur di pagi hari dan menunaikan shalat subuh saya dan beberapa kawan dari orang setempat tidak ketinggalan sang photographer yang menjadi tokoh utama dalam perjalanan ini kami langsung mempersiapkan segala sesuatu untuk berlayar menuju Pulau Letung. dengan menggunakan kapal kayu yang sehari harinya dilakukan untuk menangkap ikan di perairan laut Cina Selatan oleh nelayan setempat kami pun berangkat
  

Peternakan sapi di Pulau Jemaja
Perjalanan dengan jarak tempuh lebih kurang 4 jam itu memperlihatkan kepada kami keperawanan pantai pantai dengan pasir putih yang membentang luas dengan latar belakan bukit bukit nan hijau membuat kami sangat tertegun melihat pemandangan itu 
 
Padang Melang yang lebih kurang memiliki pantai yang panjangnya 7 KM. Dibutuhkan perusahaan konsorsium untuk membangun pantai ini. perjalanan kami teruskan menuju ke letung di sinilah pusat keramaaian pulau Jemaja ini yang di memiliki atraksi wisata "Gobang" suatu atraksi yang memiliki nilai magis. theaterikal dengan iringan musik musik tradisional pertujukan ini pernah saya lihat sebelum pada pertunjukan kesenian di Kota Tanjungpinang. Potensi agro dan peternakan menjadi daya tarik di pulau Jemaja ini dengan ketersedian lahan dan tanah yang subur, sawah sawah dengan padi yang sedang menguning menjadi pemandangan yang juga sapi sapi berkeliaran di pematang sawah. air terjun juga ada di Pulau ini.
Pantai Padang Melang di Jemaja memiliki panjang + 7 KM
Kami menghabiskan waktu hingga malam setelah berbuka puasa dan berisitirahat hingga selesai shalat isya kami mengarungi laut nan gelap dengan goyangan ombak ombak hingga kami pun tertidur sesekali kami terbangun karena lantai tempat kami berbaring panas disebabkan mesin yang terus berdengung berada di bawahnya. rasa kantuk ku hilang dan aku pun duduk di sebelah sang nahkoda untuk melihat apa yang dia lakukan di tengah malam yang gelap itu. GPS yang setia menemaninya untuk membawa kami ke Pulau Bawah. 3 buah pulau yang di hubungkan dengan pantai pasir putih. Disaat matahari mulai hendak terbit kami pun tiba di Pulau Bawah. kesempatan bersnorkling jebuuur...aku terjun untuk melihat bawah lautnya .... keren keren keren ... 

Pulau bawah di photo melalui udara (photo Bappeda KKA)
Pelabuhan kayu di Pulau Bawah
capek perjalanan pun hilang. perjalanan kami pulang higga tiba kembali di Kota Tarempa sore hari.
Istirahat malam itu memang nikmat setelah lebih kurang 32 Jam "islands tour" .

Menikmati dinginnya air terjun Temurun
Perjalanan saya ketiga ke Anambas tahun 2010 Bulan Mei. 22 wisatawan asing yang saya bawa adalah orang orang yang pernah mengungsi di Kepualaun Anambas dari Vietnam, namun sekarang mereka sudah sukses dan hidup tentram di beberapa negara di Amerika dan Eropah. Perjalanan ini bermula saat saya menjemput mereka di salah satu hotel di singapore. bermalam di Hotel di Tanjungpinang kemudian esoknya dengan menggunakan pesawat foker membawa kami terbang dari Bandara Raja Haji Fisabilliah menuju Palmatak Rombongan ini khusus ingin menikmati dan bernostalgia mereka ingin melihat langsung beberpa daerah yang mereka pernah alamai sewaktu mengungsi dahulu. beberapa dari mereka menetaskan air mata saat mereka berziarah di makam makam yang menurut mereka teman dan kerabat kerabatnya pada saat itu. rasa empati dan duka cita terlihat dari raut wajah mereka. Dua suasana yang berbeda yang dirasakan saat dahulu mereka mengungsi dan saat mereka berwisata. 

Makam bekas pengungsi Vietnam di Pulau Kuku
Perjalanan berziarah itu kami selingi dengan menikmati "keperawanan" Pulau Dewate walaupun dengan hanya makan siang dengan mie goreng semua wisatawan merasa senang di tambah lagi air kelapa muda. hmmmm  nyammiiiii.......
Birunya laut dan pesona alam membuat waktu tidak terasa hingga petang pun tiba hingga kami harus kembali ke Kota Tarempa. We miss you Anamabas.........


Dari 3 (tiga) kali Perjalanan saya ke Kepulauan Anamabas timbulah hasrat untuk "memperkosa" keperawanaan pariwisata nya. Melalui tulisan ini di harapakan ada akselerasi atau percepatan pembangunan aksesebelitas dari dan ke Kepulauan Anamabas. harapan ku dengan perkosaan ini aku berharap sang korban juga merasa senang dan tidak menuntut ku atas perkosaan yang dilakukan. 
 
Pemerkosaan Pertama Percepatan Pembangunan Aksesebelitas :
·                    Bandara dan penerbangan yang memadai
·                    Transportasi laut yang nyaman

"Pemerkosaan" Kedua Peningkatan pengelolaan Sarana dan Prasarana yang memenuhi standar pasar
·                    Akomodasi yang sesuai keinginan pasar
·                    Sarana Makan dan Minum yang harusnya makanan laut itu murah
·                    Peralatan Menyelam, Memancing, snorkling
·                    Ketersedian akses internet dengan mudah
·                    Sarana Listirik yang normal
·                    Sarana Souvenir

"Pemerkosaan" Ketiga Peningkatan Kesadaran Masayarakat akan Pariwisaata
·                    Menciptakan Sapta Pesona : Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Terkenang

"Pemerkosaan" Keempat : Kebijakan Pemerintah
·                    Kebijakan mempermudah dan insentif investasi sebab sangat diharapkan investasi yang besar untuk membangun sarana dan prasaran diatas
·                    Aparatur pemerintah yang memiliki kepemahaman dan sinergisitas pembangunan pariwisita
·                    Menumbuhkan dan memotivasi pelaku pelaku kepariwisataan
·                    Anggaran untuk pengembangan kepariwisataan

"Pemerkosaan" Kelima Lakukan Promosi

·                    Familiarization Trip
·                    Promosi melalui Dunia Maya
·                    Membentuk Konsortium Travel Agent
·                    Melakukan event event Atraksi wisata yang sesuai demand (interactive tourism

Mudah mudahan upaya upaya "pemerkosaan" diatas dapat menjadikan Pariwisata Kepulauan Anamabas di kenal dan menambah minat  wisatawan untuk mencicipi kenikmatan yang dimiliki.



Pantai Penjalin

Penyu di Pulau Durai

Pantai Penjalin

Pantai Dewate







Saturday, January 8, 2011

Ketua RT Tak seperti Walikota


Ketua RT atau Rukun Tetanga merupakan kepala daerah yang paling dekat dengan masyarakat langsung, mulai dari pendataan, penyelesaian perselisihan, perselingkuhan, pergaduhan hingga urusan kematian dan masih banyak lagi urusan yang harus di urus oleh seorang Ketua RT. Sejak tahun 2006 saya dipilih oleh masyarakat Blok A sampai dengan Blok F perumahan Mahkota Alam Permai yang berlokasi di daerah Batu 10 persisnya di depan kuburan batu 10 menuju Kota Kijang. Di pilih melalui pemilihan langsung yang tidak dilalui melalui berbagai tahapan dan  sistem kampanye dengan tidak mengeluarkan biaya sama sekali yang berbeda jauh dengan kampanye seorang calon Walikota yang bisa bisa sampai puluhan Milyar rupiah. Perjalanan Ku menjadi seorang Ketua RT menghasilkan sejarah bagi hidup ku dan menambah kematangan dan kedewasaan tersendiri, kesabaran dan ketabahan memimpin masyarakat dengan latar belakang budaya, pendidikan, pekerjaan yang berbeda beda memberikan pengalaman yang indah dengan keberagamaman suka dan duka. honor yang diterima kalau di hitung hitung yaaah .... hmmmmm...buat telpon aja mungkin nggak cukup namun amanah sudah di terima mau tidak mau harus di jalankan. pada saat pemilihan dahulu aku bekerja dengan lembaga pendidikan yang jam kerja nya sudah tertentu jam 8 pagi hingga jam 5 sore, kegiatan yang tidak begitu padat sehingga aku dapat meluangkan waktu yang cukup untuk mengelola kegiatan RT. awal tahun 2007 aku kemudian berhenti dari pekerjaan ku dan memilih untuk kerja sebagai profesional sebagai seorang tour guide. Kegiatan yang sering membawa ku pergi keluar kota dan keluar negeri untuk membawa tamu membuat urusan RT menjadi tanggung jawab istri ku yang orang orang memanggilnya "Ibu RT" kepinginnya sih dipanggil Ibu Walikota atau Ibu Dewan gitu ...hehehehheeh ..berharap satu hari kelak bisa tercapai ...hahahahahhaha....

Pada perjalanan menjadi ketua RT sempat aku mengajukan surat pengunduran diri, namun alasan yang masuk akal di layangkan oleh kantor Lurah Pinang Kencana. akhirnya dengan separuh hati kewajiban sebagai ketua RT tetap ku jalani mengingat masyrakat terus meminta surat pengantar untuk membuat berbagai dokumen.

Pada satu hari aku kembali membuka buka SK (surat Keputusan) berkaitan tentang pengangkatan RT tersebut di ternyata masa bakti ku sudah berakhir pada 20 April 2010. Tidak ku sangka sudah moloh 9 bulan lamanya ... jadi dalam hati ku bertanya kok orang kantor Lurah nggak pernah nyanya nanya... apa mereka nggak mau tau atau kenapa ya ...beberapa kali hal ini saya sampaikan kepada pak RW yang menjadi atasan RT dan beliau menyampaikan untuk bersabar sebab Kelurahan kita ini akan di mekarkan dan berubah nama menjadi Keluran " Tuah Kencana".

Seminggu yang lalu Pak RW menyampaikan untuk mengadakan rapat untuk pergantian RT, dan saya langsung membuat surat undangan kepada tokoh masyarakat dan perwakilan masyarakat untuk ikut rapat yang intinya adalah memilih Ketua RT yang baru untuk menggantikan Ku. 30 undangan disebarkan dan malam harinya yang datang hanya 6 orang saja ..itupun harus di tambah pakai telpon. 6 orang yang datang ditambah pak RW kami bersepakat untuk mengadakan pertemuan lanjutan dengan yang mengudang Pak RW ...yang datang cuma namabah 2 orang dari 6 orang yang hari sebelumnya hadir. Kesepakantan pun di dapat juga dengan cara melakukan pemungutan suara melalui surat suara yang di sebarkan ke rumah rumah penduduk dengan 3 calon ketua RT. Hari Senin pukul 20.00 menjadi waktu terakhir masyarakat untuk mengembalikan surat suara.

Ketua RT dan Walikota atau kepala daerah yang lainnya memiliki kesamaan dan juga memiliki perbedaan. sama sama pemimpin namun banyak perbedaan mulai dari pendapatan, modal yang dikeluarkan. disaat pemilihan RT yang banyak orang menolak untuk dicalonkan sementara walikota banyak orang minta di calonkan hingga harus membayar sejumlah uang untuk dicalonkan. Ketua RT tidak mau di dukung sementara Walikota meminta dukungan hingga terkadang memberikan imbalan untuk di dukung. Ketua RT tidak ingin di kampanyekan sementara Walikota minta di kampanyekan sampai sampai menggunakan uang rakyat unutk berkampanye.....

hmmmmm sudah lah aku menarik napas dalam dalam ....semoga apa yang telah ku abdikan ini bisa membawa kebaikan dan menjadi modal untuk di akhirat kelak... semoga RT 04 RW 01 memiliki ketua RT yang lebih baik dari apa yang pernah ke perbuat dengan tidak meminta imbalan yang sama dengan sang "walikota".... amiiiiinnnnn

Friday, January 7, 2011

Perjuangan Hidup sang "Penyu"

Dua hari ini kepalaku di hinggapi pemikiran pemikaran tentang Penyu .... Bapak Wan Kamar adalah orang yang menjadi teman ku berdiskusi berkaitan dengan hewan yang kemungkinan akan bisa punah ini. Penyu adalah hewan yang memiliki banyak keunikan dan kelebihan. Hewan yang saya nggap memiliki komitmen dan integritas yang tinggi yang sangat menjunjung tinggi rasa kecintaan terhadap tanah kelahirannya. Menurut Bapak Wan Kamar yang memang lahir dari sebuah Pulau yang menjadi "surga" kehidupan Penyu Pulau yang di kenal dengan "Timbalan Riau" atau lebih di kenal dengan Tambelan. menurut beliau bahwa penyu penyu yang dimanapun di lepaskan mereka akan kembali lagi ke lokasi dimana mereka di telurkan atau di lahirkan. sungguh merupakan keunikan dimana "firasat" hewan ini cukup tinggi hingga mampu kembali lagi ke tanah kelahirnnya ...

Proses pengembang biakan penyu menjadi ketertarikan ku untuk menggali lagi informasi yang berkaitan dengan hewan yang hidup di laut yang memiliki karang dan lingkungan yang bersih ini. Penyu merupakan hewan yang memiliki banyak pemangsa ...Mulai dari manusia sebagai pemangsa telurnya yang juga sama dengan biawak biawak.... ikan hiu, krapu dan banyak lagi ikan ikan yang memangsa penyu penyu kecil


Penyu adalah kura-kura laut. Penyu ditemukan di semua samudra di dunia. Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura (145 - 208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Pada masa itu Archelon, yang berukuran panjang badan enam meter, dan Cimochelys telah berenang di laut purba seperti penyu masa kini.
Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 - 73 hari.

(sumber : id.wikipedia.org)

Tambelan adalah Kecamatan di wilayah Kabupaten Bintan  bolek di lihat di Google map di link bawah ini 

http://maps.google.co.id/maps?f=d&source=s_d&saddr=&daddr=Tambelan&hl=id&geocode=Ce4Si8qBaC3KFaRdDwAdsvloBim1sxQ4XwjhMTFQBSGygJ0DBA&mra=ls&sll=1.007085,107.542934&sspn=0.077922,0.154324&ie=UTF8&ll=0.543815,105.913696&spn=2.493587,4.938354&z=8

Di Kecamatan ini yang terdiri dari pulau pulau yang mengelilingi pulau Tambelan menjadi surga bagi penyu penyu yang sejak dahulu menjadi daya tarik tersendiri bagi kepulauan ini. ribuan telur bisa di produksi oleh penyu penyu yang hidup di sekitar perairan kepaulaun ini dalam setahun. 

Bagaimana kita berpartisipasi dan perjuangan untuk berkembang biaknya penyu penyu itu ??? Seberapa penting peran serta kita untuk menyelamatkan kepunahaan hewan ini ??? Potensi apa yang bisa kita kembangkan ??? 

let's save the turtles ......



Menyenangkan Pariwisata dan Pariwisata Menyenangkan ???

Secara Harafiah atau pengertian oleh para pakar akademisi bisa memberikan pengertian dan arti Pariwisata secara luas dan Gamblang, pengertian yang begitu banyak yang kadang sulit bagi masyarakat untuk memahami untuk mampu melaksanakan arti dan makna pariwisata tersebut

Pariwisata bagi kami adalah SENANG..... Senang bagi Wisatawan maupun yang orang dikunjungi oleh Wisatawan tersebut. Bagi wisatawan sudah jelas suasana menyenangkan menjadi harga mati yang harus di dapatkan oleh mereka, karena mereka dengan rela menghabiskan waktu, uang dan tenaganya untuk mendapatkan yang namanya Senang tersebut. Transportasi, pelabuhan, bandara, pramuwisata, hotel restaurant, cendera mata yang menyenangkan menjadi tuntutan bagi semua wisatawan yang ingin berkunjung.

Sebaliknya Senang bagi yang dikungjungi ini belum tentu mampu di terapkan oleh si tuan rumah. Pemerintah, Masyarakat dan Pelaku usaha terkadang belum menerima kesenangan atas dampak pengembangan pariwisata.

Saat ini saya sedang berfikir tatkala kita hendak mengembangkan kepariwisataan sebagai penambah devisa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat namun kita sendiri masih di rundung sedih, carut marut perpolitikan, suasana plitik yang terus memanas, sikap anarkis yang dipertontonkan di khalayak ramai, kedamaian yang semakin mahal harga nya hingga ketidak harmonisnya hubungan pilar pilar pariwisata di daerah ini.

Mampukah Kita ?????

Thursday, January 6, 2011

Profile Saya Sapril Sembiring







Saya adalah seorang Hamba Allah SWT yang dilahirkan di sebuah desa kecil di Kecamatan Bahorok Oleh seorang Ibu yang bernama Salimah Binti Mulia Karo Karo yang merupakan buah perkawinannya dengan seorang Pria bernama Kuling Maha tepatnya pada tanggal 5 April 1975. Disaat lahir nama yang saya sandang saat ini merupakan pemberian dari kakek saya  dimana nama yang diberi berkaitan dengan  tanggal lahir saya Hari Sabtu bulan April dan bersamaan pada tanggal 5 April. Perjalanan hidup saya berpindah pindah mengikut orang tua yang dahulu sebagai Pegawai Negeri sipil yang sering di pindah pindah tugaskan dari Kota Binjai saya kemudian berpindah sekolah ke SD Kampung Bukit dimana jalan menuju ke sekolah ku ini dulu masih berlumpur tatkala hujan. Masuk pada kelas 3 SD hingga Saya menamatkan sekolah dasar di SD Kampung Bukit ini saya hidup dan tinggal dengan kasih saying nenek dari pihak Ibu saya. Setelah menamatkan sekolah dasar kemudian saya melanjutkan ke sekolah SMP

Di SMP jenjang sekolah lanjutan pertama saya di SMP Negeri Bahorok Kelas 1 dan 2 saya jalani di sekolah ini dengan penuh suka cita. Inilah sejarah saya sehingga membawa kehidupan saya sangat berdekatan dengan Kepariwisataan. Disamping bersekolah sehari hari saya juga menyempatkan diri untuk mencari uang tambahan untuk jajan di sebuah desa kecil yang bernama Bukit Lawang Kecamatan Bahorok. Di desa ini terdapat satu program pelestarian hewan langka yaitu “Orang Utan” dimana tempat pusat rehabilitasi hewan langka yang hanya ada 2 lokasi di Indonesia yaitu di Kalimantan. Banyak nya kunjungan wisatawan asing yang membutuhkan bantuan pemandu wisata untuk menikmati keindahan alam hutan tropis di kawasan ini .membawa saya ikut terlibat dalam kehidupan dan berperan sebagai pembantu Pemandu Wisata “Jungle Trek Guide”. Menjadi pelayan itulah yang menjadi titisan hidup saya. Kehidupan ini terus ku jalani sehingga saat nya aku menginjak menduduki bangku sekolah di kelas 3 SMP saya berpindah sekolah ke SMP Negeri Lau Baleng yang merupakan kota dimana handai tolan dan keluarga dari pihak Ayah ku banyak bermukim dan tinggal disana. Tugas yang di emban orangtu sebagai pelaksana tugas Camat di Kecamatan Mardingding membawa aku berpindah sekolah. Di Kampung kelahiran Ayah tercinta ini Saya mendapatkan berbagai ilmu yang bermanfaat khususnya lebih mendalami adat istiadat kaum kami yaitu Suku Karo. Selama lebih kurang 1 ½ tahun Saya mendapatkan berbagai kearifan masyarakat karo dan membawa saya juga lebih fasih untuk berbahasa Karo, selama di Lau Baleng aku lebih bisa berkomunikasi dengan berbahasa Karo sebab sebelumnya aku lebih fasih dalam berbahasa Melayu karena desa kelahiranku itu mayoritas kaum Melayu. setelah menamatkan jenjang sekolah menengah pertama (SMP) kemudian aku hizrah ke Kota Medan untuk melanjutkan sekolah kejuruan .... Berbekal bahasa Inggris dan pernah hidup di kawasan wisata di Bukit Lawang dan sempat ikut ikutan menjadi asisten pemandu wisata dan menjadi waiter di wisma milik paman yang bernama Bukit Lawang Cottage ...

Bersekolah di kota Medan yang membutuhkan biaya besar membuat aku harus sering pulang ke Bukit Lawang untuk mencari biaya tambahan dengan membantu di wisma paman pada saat akhir pekan .... kegiatan in terus berjalan pada waktu aku sempat tinggal di usaha percetakan di simpang Kampus USU medan yang milik sepupu ku untuk membantu kegiatan usaha ini di luar jam sekolah .....

Setelah selesai di SMIP Pencawan Medan aku dan seorang teman ku bernama Oslan Herijon :Lingga yang saat ini menjadi Dosen di Akpar Medan berniat untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang Universitas atau pun Akademi, Kami berniat untuk bekerja di wisma Sri Said yang pemiliknya adalah keluarga sendiri... Namun memang takdir berkata lain. Pada satu Malam kami berdua di panggil oleh Paman Ku Said Purba ...di beri wejangan dan Nasehat hingga akhirnya kami berdua pun memilih untuk melanjutkan sekolah di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisita atau BPLP Medan pada saat itu ....
 
Setelah mengikuti 2 (dua) kali test kami pun ditetapkan lulus masuk di Lembaga Negeri yang melatih tenaga profesional di bidang Pariwisita saya di Jurusan Room Division dan temen saya Osland di Jurusan Tours and Travel yang dia pilih sesuai dengan jurusan kami disaat duduk di bangku SMIP Pencawan Medan
BPLP Medan ini lah Aku berkesempatan dan terpilih untuk mewakili mahasiswa dari kampus ku ini untuk magang di Singapore selama 6 Bulan. suatu kebanggaan bagi ku untuk ikut program pemagangan ....Amara Hotel di Tanjong Pagar Road Singapore sebagai tempat ku Magang...kamki melaksanakan magang hanya 4 bulan lebih saja sebab kami terlambat berangkat di karena pengurusan dokumen perjalanan dan work permit yang mengakibatkan kami terlambat dari jadwal keberangkatan .....

Aktif diberbagai kegiatan di Kampus juga memberikan makna dan pengalaman yang berarti bagi saya sehingga diberikan amanah untuk menjadi Ketua Panitia pada kegiatan Orientasi Penerimaan siswa Baru (Ospek) pada Tahun 1996 di Kampus BPLP yang sekarang menjadi AKPAR Medan (Akademi Pariwisata). Setelah Tamat dari kampus yang sangat bergengsi di Kota Medan pada saat itu saya kembali ke kampung halaman di Bukit Lawang untuk mencoba menerapkan ilmu ilmu pelajaran yang di dapatkan di Kampus selama belajar di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata yang merupakan Milik Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi sekarang menjadi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Tidak terlalu lama salah seorang senior saya menawarkan untuk bekerja di Bintan di sebuah Hotel yang berbintang 5 katanya ….Hmmmmmm…sebuah tawaran yang menggiurkan sehingga saya pun dengan semangat untuk mempersiapkan keberangkatan menuju Pulau Bintan yang sebelumnya tidak pernah saya kunjungi dan belum pernah terbayang seperti apa Pulau ini, yang saya ketahui ialah penghasil Bauksit dan itupun pernah menjadi pelajaran hapalan. Perjalan Menuju pulau Bintan di lalui melalui satu proses yang tidak begitu susah dengan seizin Ibunda tercinta saya pun berangkat melalui Bus dengan jarah tempuh lebih kurang  12 Jam menuju Kota Dumai. Berangkat malam kira kira pukul 19.00 tiba di Kota itu pukul 07.00 pagi kemudian dilanjutkan dengan ferry (kapal dengan kecepatan tinggi) menuju Kota Batam. Dari Pulau yang sangat dikenal sebagai Kota industri ini saya pun melanjutkan perjalanan dengan menggunakan speed boat menuju Pulau Bintan. Setibanya saya di Pulau ini saya sangat kagum dengan fasilitas yang ada di kawasan ini yang memang di persiapkan sebagai wahana pariwisata yang terpadu mulai dari pelabuhan dan sarana jalan, hotel dan sarana rekereasinya lengkap. Ketibaan saya di Pulau ini pun sudah di sambut salah seorang alumni kampus kami yang dengan ramah suka cita mengatarkan saya ke Hotel Sedona Bintan Lagoon. Sebuah Resort berkelas Internasional dengan kapasitas kamar 463 kamar dan 57 Villa.
Kesabaran saya di uji saat itu, ketika beberapa hari saat saya tiba di Pulau Bintan terjadi isu yang bedampak penurunan jumlah kunjungan wisatawan sehingga lamaran pekerjaan saya untuk bekerja di Hotel yang Berbintan Lima itu pun tertunda sehingga saya harus bersabar untuk di panggil lagi. Namun memang rezeki tidak kemana tidak sampai 1 (satu) buloan Menunggu saya pun di terima sebagai waiter room service. Pekerjaan di Hotel ini saya geluti dan saya cintai. Lagi lagi organisasi yang menjadi kegemaranan saya sehingga saya terlibat dalam keorganisasian yang menaungi pekerja pekerja di Hotel itu atau serikat pekerja seluruh Indonesia (SPSI) Pariwisata. Awalnya saya adalah salah satu ketua Bidang di Organisasi ini kemudian akhirnya pada pemilihan pengurus pada masa kepengurusan yang baru saya terpilih sebagai Ketua pada tahun 2000.

Tahun 2003 saya berencana untuk kembali ke kampung halaman saya di Bukit lawang untuk meneruskan dan membina usaha perhotelan milik kerabat keluarga disana, namun Langkah, Rezeki, Pertemuan dan Maut memang sulit diprediksi. Perjalanan dan langkah hidup saya berubah dari apa yang saya rencanakan yang awalnya sudah mengajukan pengunduran di di Hotel yang saat itu sangat nyaman dan bergengsi untuk kembali ke Kampung.
Perjalanan Saya Ke Pulau Penyengat sebuah Pulau Kecil di sebelah Barat Kota Tanjungpinang memberikan warna indah bagi kehidupan saya, berawal dari kunjungan ke Pulau itu untuk membawa team sepak bola untuk mengikuti tournamen di Pulau yang mungil itu. Saya dulu pemain sepak bila juga loo..... kayaknya sekarang sih udah berat lah...... Pertemuan dengan seorang gadis cantik dan memiliki senyuman yang menawan, menambatkan hati saya untuk berkenalan dengan nya, berkat bantuan seorang teman yang memang lahir dan besar di Pulau itu akhirnya hubungan kami terjalin. Saya harus akui bahwa memang takdir itu Allah yang menentukan, rencana untuk kembali ke Kampung Halaman di Bukit Lawang ternyata berbeda seeperti yang direncanakan. Hubungan kasih dan cinta yang ku jalin dengan Gadis dari Pulau Penyengat ini menjadi pembicaraan yang lebih serius. Hubungan ini semakin erat tatkala aku harus di rawat di sebuah rumah sakit di Tanjungpinang, dikala itu lah ia sering memberikan perhatian khusus buat ku. Dengan modal keberanian dan solo karier aku meyakinkan kedua orang tuanya untuk mempersuntingnya sebagai calon pendamping hidup ku yang saat itu aku adalah seorang pengangguran yang tidak memiliki mata pencaharian, sempat terpikir oelh orang tuanya bahwa apakah aku sanggup menghidupi keluarga dengan tanpa memiliki pekerjaan, ini masa masa yang sulit bagi ku. Kesepakatan pun dibuat akhirnyanya kekuatan Cinta dan Sayang menyatukan kami. Dialah Ima Yohana yang menjadi Pendamping Hidupku yang saat ini memberikan ku kehangatan dan membuahkan 2 orang insan manusia yang Soleha dan Soleh dan berbakti kepada kedua Orang tuanya. Raissa Almira Ulina ialah seorang Putri hasil dari perkawinan kami lahir di tahun 2004, Kemudian Raimanda Mahanta Sembiring seorang putra yang lahir di tahun 2007. Kehidupan kami Bahagia saat ini dengan nikmat dan ridho yang senantiasa di Berikan Allah SWT. Semoga saya bisa berguna bagi Keluarga, Agama, dan Bangsa yang tercinta ini 
This is my Life ....