Total Pageviews

Tuesday, January 3, 2012

Program Kerja Kadin Kepri Komite Tetap Pengembangan dan Promosi Pariwisata

Program Kerja Kadin Kepri
Komite Tetap Pengembangan dan Promosi Pariwisata
Oleh : Sapril Sembiring

Mukadimah

Kepulauan Riau yang terdiri dari 2 (dua) Kota dan 5 (Lima)  Kabupaten memiliki karakteristik yang mayoritas adalah kelautan, peninggalan peninggalan sejarah Kerajaan Riau Lingga yang tersebar di beberapa daerah di Kepri seperti Tanjungpinang, Lingga, Anambas Natuna dan Tanjung Balai Karimun membuat wilayah ini berani mendeklariskan dirinya sebagai “Bunda Tanah Melayu”. Berbagai potensi yang ada saat ini yang selalu di dengungkan masih hanya sebatas potensi belum merata mejadi nilai jual yang bisa di nikmati oleh wisatawan, disisi lain potensi yang selalu di di besar besar kan oleh beberapa pihak yang hanya terhenti di sisi Potensi dan belum bisa menjadi Nilai Jual

Kondisi saat ini :

Batam
Batam dengan kota yang memiliki populasi terbesar di Kepri dengan berbagai keunggulan ditetapkan sebagai kawasan FTZ secara keselurahan. Murahnya berbagai produk luar negeri yang menjadi kan Batam sebagai destinasi wisata untuk Berbelanja. Tersediannya fasilitas Hotel dan ruang konvensi serta kemudahan aksesebelitas dari dan ke kota kota besar di Indonesia menjadikan Batam menjadi Kota MICE. Letak geograpis Batam yang hanya kurang dari 35 menit dari dan ke Singapura menjadi daya tarik tersediri baik itu wisatawan asing maupun wisatawan domestic



Tanjungpinang
Kota yang memang dahulu sudah di kenal sebagai pusat perdagangan pada masa kejayaan Kerajaan Riau Lingga yang juga Johor dan Pahang memiliki peran penting pada masanya. Ditetapkannya Kota Tanjungpinang sebagai Ibukota Provinsi Kepulauan Riau menjadikan kota ini mulai disibukan dengan aktifitas bisnis perkotaan. Pulau Penyengat dengan peninggalan sejarah Melayu yang masih beridiri kokoh sampai saat ini seperti Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat, Istana Kantor dan banyak lagi situs situs yang ada ditambah lagi makam makam para pendahulu leluhur masyarakat Melayu di wilayah Asia Tenggara .

Bintan
Dalam rangka menjaga hubuungan historis yang panjang antara Singapura – Johor dan Riau atau yang di kenal dengan “sijori” maka dibangunlah kawasan Bintan Resort yang lebih kurang seluas 32.000 ha di kawasan utara Pulau Bintan. Dengan konsef kenyamanan dan ketenangan bagi si wisatatan. Kawasan yang di kemas secara terpadu menjadikan kawasan ini dikenal oleh dunia internasional karena para pengelola resort dan kawasan ini secara terus menerus mengupayakan untuk mengenalkan kawasan ini di pasar pasar wisatawan dunia. Kerja sama kerjasam ke berbagai pihak di jalin termasuk Singapore Tourism Board menjadi mitra penting dalam mempromosikan Bintan. Wilayah timur pulau Bintan menjadi kawasan pengembangan Baru dengan konsef lebih sederhana yang saar ini sudah terdapat beberpa resort dengan harga yang lebih atraktif bagi wisman dari Singapura maupun local

Tanjung Balai Karimun
Tersediannya jalur pelayaran dari dan Ke Malaysia dan Singapura menjadi salah satu modal kunjungan wisatawan yang mayoritas untuk berakhir pekan. Kegiatan malam, restauran seafood menjadi daya tarik utama para wisatawan berkunjung ke Tanjung Balai dan Tanjung Batu. Namun saat ini arus kunjungan semakin lama semakin menurut, berbagai pihak menyatakan tingkat kunjungan menurun akibat terbatasnya kegiatan kegiatan malam di dua kota ini sehingga mengurangi minat wisman dari Singapura dan Malaysia

Dari Keempat wilayah tersebut sudah memiliki keunggulan Aksesebelitas dan tersedianya sarana dan prasarana dalam mendukung kegiatan kepariwisataan

Natuna
Kabupaten di ujung Utara ini dulu sangat dikenal dengan penghasil Migas. Namun di sisi lain potensi pantai, bawah laut dan kekayaan yang terkandung di dalamnya  lahan pertanian dan masyarakat yang ramah menjadi potensi yang selalu di kedepankan. Namun kondisi aksesebelitas yang terbatas dengan kondisi bandara yang masih menumpang dengan pangkalan Udara TNI AU dan keterbatasan penerbangan dari dan ke wilayah ini menjadi kendala penting. Keterbatasan sarana penginapan yang layak dan juga belum tertanya destinasi wisata seperti pantai dan kawasan kawasan atraksi wisata. Minimnya pelaku usaha di bidang seperti travel agent, hotel dan restaurant dan juga sumber daya manusia di bidang pariwisata. Ketersedian informasi yang ada sangatr minim,  dan sarana pariwisata yang belum mendukung secara utuh menjadi kendala bagi wisatawan yang pada ahirnya enggan berkunjung ke Kabupaten ini

Lingga
Bunda Tanah Melayu begitu mereka menjuluki Kabupaten ini, peninggalan peninggalan sejarah masa Kerajaan Riau Lingga masih terlihat di sana dimana dahulu kala kota yang menjadi Ibukota Kabupten Ini merupakan bekas pusat kerjaan Riau Lingga yang pengaruhnya samapi ke Johor dan Pahang di Malaysia. Potensi Sejarah dan maritime nya menjadi daya tarik ditambah lagi potensi lahan pertanian, salak, durian dan banyak lagi hasil pertanian di daerah ini yang bisa di jadikan atraksi wisata, Tantangan Gunung Daik yang secara legenda menyimpan berbagai keunikan ditambah flora dan fauna yang terkandul di hutan tropis serta titik Katulistiwa menjadi nilai nilai tambah bagi Kabupaten ini untuk di kembangkan menjadi destinasi wisata

Kepulauan Anambas

Ditetapkan sebagai Kabupten termuda atas pemekaran Kabupten Natuna menjadikan Kabupten ini terus berbenah dan membangun. Kondisi yang jauh di ujung utara menjadikan Kabupten ini sedikit terkendala dengan jalur transportasi apalagi di musim utara dimana pelayaran menuju ke Kabupten ini terkendala akibat tingginya gelombang laut di tambah kuatnya angin yang berhembus. Berbicara potensi laut dan pantai nya khusus di Kepulauan Riau ini Kepulauan Anambas memang jagonya. Pantai dengan air putih yang terdapat di berbagai pulau di sana. Di Pulau Jemaja terdapat satu kawasan pantai yang panjangnya lebih kurang 7 (tujuh) Kilometer yang saat ini masih belum dikelola secara terpadu untuk dijadikan objek wisata namun masih sebatas di nikmati oleh masyarakat setempat pada waktu waktu tertentu. Keindahan pulau pulau dengan ciri khas bebatuan yang besar seolah olah di susun seperti pakaian menghiasi pemandangan di daerah ini. Karang karang yang menjadi tempat bermain ikan ikan memberikan peluang besar untuk lebih dikembangkannya lagi wisata bawah laut. Kondisi aksesbelitas dan sarana akomodasi menjadi kendala saat ini, sehingga Pariwisata ini sementara di konsumsi untuk wisatawan minat khusus yang salah satu contohnya adalah bekas pengungsi Vietnam yang dahulu kala memiliki sjarah di beberapa Pulau di Kabupaten ini.
  
Pointer :
Dari selayang pandang diatas ada beberapa hal yang perlu di tindaklanjuti dalam program aksi untuk menjadikan Kepri sebagai Destinasi Wisata Unggulan.
Sebagai upaya untuk kepentingan operasional pengelolaan “Potensi Pariwisata” di Provinsi Kepulauan Riau , dengan ini dapat direkomendasikan beberapa hal yang terkait dengan penyelenggaraan kegiatan pengembangan potensi tersebut. Cakupannya adalah sebagai berikut :

A.    PENGELOLAAN POTENSI
1.     Perlu dilakukan suatu tindakan untuk mengidentifikasi dan mengkaji “potensi” di Provinsi Kepulauan Riau  dan sekitarnya dalam upaya pengembangan kawasan ini menjadi “Potensi Wisata”. Dan menjadikannya dalam bentuk Paket Wisata
2.     Dalam pengelolaan potensi perlu diorganisasikan persyaratan pariwisata berkelanjutan dan menghindari dampak-dampak negatif yang dapat timbul.
3.     Pengemasan potensi ke dalam produk-produk wisata yang dapat laku dijual memerlukan sumber daya manusia dan lembaga pengelola yang profesional, handal dan terpercaya.
4.     Perlu dibuat/disusun “peta potensi” yang ada di Provinsi Kepulauan Riau atas keaslian, otentisitas dan karakteristik yang melekat pada kawasan itu dan diperlukan pengunjung, pengelolaan dan persyaratan “pariwisata berkelanjutan” yang ditentukan secara spesifik berlaku di tempat.

B.    PEMAKETAN PRODUK
1.     Perlu disusun jalur wisata yang bersifat terpadu di Provinsi Kepulauan Riau  dan sekitarnya, yang selalu dapat dibinakembangkan dan dirancang oleh setiap jenis pelaku kepariwisataan sesuai kebutuhan melalui tema-tema untuk berbagai corak kunjungan wisatanya dan memperhatikan kecenderungan serta preferensi wisatawan.
2.     Diperlukan “manajemen atraksi” yang akan dibutuhkan oleh pengelolaan lokasi dan setting tata ruang yang memadai serta memperhatikan aspek keseimbangan antara daya dukung dan daya tampung. Pengelolaan akan dapat meliputi :
·        Arena atraksi
·        Pengemasan route dan “guide lines”
·        Tempat parkir dan pengelolaannya
·        Tempat kedatangan
·        Tempat keberangkatan
·        Area taman/rest area
·        Toilet
·        Dan lain-lain
3.     Perlu disusun pemaketan produk yang dapat laku “dijual” tanpa meninggalkan aspek daya tarik berbasis alam pedesaan. Pemaketan produk dapat dilakukan :
·        Product by time
(Penyusunan produk tour berbasis alokasi waktu)
·        Product by theme
(Penyusunan produk berbasis tema atau manfaat atas kegiatan wisata yang dilakukan).
·        Product by event
(Penyusunan produk berbasis peristiwa/kejadian)
·        Product mixed
(Penyusunan produk secara bauran)

C.    PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
1.     Setiap pelaku kepariwisataan termasuk sumber daya manusia yang akan mengelola di ODTW di Provinsi Kepulauan Riau  sebagai “Potensi Wisata” hendaknya selalu dapat mengadopsi secara riil tuntutan penyediaan sumber daya manusia yang professional, handal, terpercaya guna menyelenggarakan kepariwisataan yang menjawab tantangan kepariwisataan kini dan mendatang.
2.     Pendidikan dan pelatihan selalu dapat dibinakembangkan dalam berbagai tingkatan, tipologi dan sasaran guna mempersiapkan sumber daya manusia yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan pengembangan “Potensi Wisata” di berbagai kawasan wisata di Kepulauan Riau.
3.     Adalah amanat menjadi sumber daya manusia yang siap, tanggap, tangguh dan trengginas di samping tanggungjawab merupakan tuntutan jatidiri para pelaku kepariwisataan.
4.     Kode etik profesipun hendaknya dapat diciptakan sebagai suatu tata nilai standar performasi sumber daya manusia yang perlu dibinakembangkan menjadi tata laku berkarya bagi penyelenggaraan kepariwisataan yang professional, handal dan terpercaya.

D.    KELEMBAGAAN DAN PENGELOLAAN
1.     Kelembagaan
a)     Perlu dilakukan suatu kajian kelembagaan yang diperlukan bagi peng-operasian penyelenggaraan kegiatan “Potensi Wisata” dan perlu ditetapkan adanya suatu pedoman baku tentang apa, bagaimana dan seperti apa kelembagaan yang terkait dengan pengoperasian “Potensi Wisata” di berbagai kawasan wisata di Kepri atau di Kabupaten Kota di Kepri.
b)     Perlu ditata adanya suatu tata laksana dan organisasi yang secara struktur dan fungsi dalam beberapa tingkatan pelayanan penyelengga-raan Potensi Wisata yang diperlukan sesuai tingkat perkembangannya.
c)      Berbagai jenis kelembagaan, baik formal, informal dan non formal akan diperlukan guna menyelenggarakan pengelolaan wisatanya sesuai dengan tema-tema yang dirancang dan preferensi pasar/wisatawan pada satuan waktu dan satuan area kunjungan tertentu.
d)     Berbagai tingkat kelembagaan perlu dipersiapkan untuk operasional lembaga pelaksana pengembangan ODTW di Provinsi Kepulauan Riau  yang memenuhi persyaratan, pelayanan wisata yang berkelanjutan.
2.     Pengelolaan
a)     Perlu dibinakembangkan prosedur operasi standar yang mengelola Provinsi Kepulauan Riau  sebagai Potensi Wisata.
b)     Pengelolaan yang memenuhi standar “sustainable tourism” hendaknya dipegang sebagai acuan kerja dalam berbagai kondisi dan kepentingan.
c)      Koordinasi, konsolidasi dan kerjasama lintas pelaku lintas wilayah perlu selalu dilakukan, guna mencapai pelayanan kepariwisataan yang memuaskan wisatawan di samping menguntungkan masyarakat dan lingkungan setempat.
d)     Komitmen moril dan politis harus menjadi amanat kerja pengelolaan bagi pencapaian visi pengembangan kepariwisataan di Provinsi Kepulauan Riau  dapat menjadi kenyataan operasional.
Direkomendasikan kepada Pemerintah Daerah dan segenap jajarannya untuk selalu dapat menyediakan data berjalan mengenai potensi dan jalur wisata yang dapat diakses dengan mudah oleh pihak-pihak yang memerlu-kannya terutama pelaku bisnis pariwisata. Tindakan pengelolaan/pengem-bangan Provinsi Kepulauan Riau sebagai Potensi Wisata harus didasarkan pada kemampuan manajerial yang memadai, seperti : kemampuan untuk menyajikan pelayanan atraksi, informasi, aksesibilitas, amenitas dan pelayanan lingkungan. Selanjutnya rekomendasi akan mengemuka sebagai berikut :
·        Berwisata hendaknya menjadi fenomena budaya kita yang mendasar dalam upaya pendidikan bagaimana menjadi wisatawan yang baik dan sekaligus bagaimana menjadi tuan rumah yang baik.
·        Tindakan Sadar Wisata dan pengamalan Sapta Pesona Pariwisata oleh segenap lapisan masyarakat harus sudah tidak lagi merupakan anjuran dan harus selalu menjadi kebutuhan bagi siapapun demi kepentingan pariwisata yang berkelanjutan.
·        Diperlukan lembaga pengelola dan sumber daya manusia yang sungguh-sungguh memiliki penguasaan pengetahuan, keterampilan dan etika yang memadai.
·        Direkomendasikan agar pemerintah lebih memberi perhatian pada pengembangan produk, sementara pihak swasta lebih pada promosi dan tidak berjalan, tidak “integrated”.
·        Pariwisata memerlukan tanggungjawab atas keberlangsungan ekonomi, budaya dan lingkungan.
·        Pariwisata membutuhkan keserentakan semua pihak untuk mengolah keunggulan “komparatif” menjadi keunggulan “kompetitif” terutama di era global. Untuk itulah “action plan” dibangun dan ditindaklanjuti secara sinergis oleh siapapun yang terlihat sesuai dengan “job description”nya masing-masing.
·        Diperlukan database mengenai sejumlah potensi kepariwisataan baik potensi budaya, alam, kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan, demikian pula akses dan amenitas dalam upaya untuk penyusunan produk-produk wisata sesuai dengan “minat pasar”.
·        Dengan maksud agar mampu memberi “efek ganda” yang lebih kuat kepada masyarakat lokal atas keterlibatannya dalam pengembangan kepariwisataan, maka pembangunan kepariwisataan harus benar-benar didasarkan atas pertimbangan “pariwisata berkelanjutan” (sustainable tourism).
·        Diperlukan adanya upaya-upaya nyata agar dampak negatif yang bisa saja timbul atas pengembangan pariwisata dapat ditiadakan atau paling tidak diminimalisir. Hal ini sangat penting untuk diwujudkan demi keberlangsungan pariwisata itu sendiri. Sebab pengembangan kepari-wisataan dapat menambah kesejahteraan masyarakat akan tetapi di sisi lain dapat menimbulkan perubahan-perubahan nilai budaya, pola hidup dan bahkan konflik-konflik kepentingan dalam kehidupan masyarakat.
·        Diperlukan adanya penerapan standar pengelolaan dan pengembangan produk wisata yang dibangun, yang dapat meliputi :
1)     Standar kualitas pelayanan”atraksi”
2)     Standar kualitas pelayanan “informasi”
3)     Standar kualitas berbagai kemudahan dan fasilitas pendukung
4)     Standar kualitas lingkungan
·        Diperlukan adanya penerapan “Standard Operating Procedure” dan “Standard Kompetensi”. Diperlukan adanya lembaga pengelola yang sungguh-sungguh dapat merealisasi tindakan pengembangan potensi wisata dalam upaya untuk memfasilitasi pencermatan dan pemenuhan “trend” pariwisata yang berubah dari waktu ke waktu seiring dengan perubahan yang terjadi.
Sebagai upaya tindak lanjut rekomendasi di atas, berikut ini disampaikan Rencana Program Aksi :
1.     Program pemberdayaan masyarakat melalui penghayatan dan peng-amalan Sapta Pesona Pariwisata dan pembentukan kelompok Sadar Wisata.
2.     Program penataan lingkungan dan “setting” tata ruang untuk kegiatan wisata serta manajemen atraksi.
3.     Program pengembangan sumber daya manusia (peran pemandu wisata dan bagian informasi).
4.     Program penyusunan lembaga pengelola
5.     Program penyusunan, pemaketan dan pemasaran produk wisata
6.     Program penyusunan “Standard Operating Procedure” (SOP) bagi :
·        Pemandu wisata (guide)
·        Tour operator (pengelola produk tour)
7.     Penyusunan buku informasi wisata di Kepulauan Riau
8.     Program studi banding keluar daerah
9.     Program kemitraan dengan pihak lain
10. Stimulus pengelolaan odtw sebagai proyek percontohan untuk pengembangan wisata pedesaan di Provinsi Kepulauan Riau.

 ·        Rencana Aksi - Program Pengembangan
o       Assitensi di bidang pengembangan – Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA)
o       Asisstensi kemitraan pelaku pariwisata – Masyarakat dan Pemerintah
o       Pengembangan Kompetensi SDM dan pertumbuhan SDM Pariwisata
o       Kampanye Sadar Wisata

·        Rencana Aksi – Program Promosi
o       Pembentukan Konsorsium Travel Agent Kepri
o       Fam Trip (Media dan Travel Agent)
o       Road show ke Kota kopta potensi Pasar Kepri
o       Pameran
o       Newsletter
o       Iklan di Koran, Majalah, Bandara, dll
o       Outdoor advertising
o       Peningkatan Pelaksanaan Event event berskala Nasional dan Internasional




Tuesday, December 20, 2011

Wisata Kuliner di Kota Gurindam

Keunggulan Kota Tanjungpinagn bukan hanya bisa dirasakan melalui kekhasan budaya dan seni saja namun keanegaraman makanan merupakan daya tarik tersendiri yang bisa di nikmati di Kota yang berjulukan Kota Gurindam Negeri Pantun ini. Sajian makanan yang mengundang selera tersaji di berbagai lokasi yang ada di daerah ini baik yang dikemas secara tradisional maupun modern. Makanan dan minuman yang dikemas bisa saja berbahan baku dari hasil laut, tumbuh tumbuhan maupun dari hasil olahan ternak seperti ayam atau sapi.Berbagai lokasi dari aktu ke aktu telah menjadikan tempat tersebut menjadi kawasam kuliner yang budah bagi banyak orang untuk menemukan berbagai sajian dengan cita rasa yang berbeda. Berikut beberapa tempat pusat kuliner maupun jajanan yang ada di sekita Kota Tanjungpinang 

Akau Potong Lembu
Akau Potong Lembu dari namanya mungkin kita bingung kok tempat makan namnya potong Lembu, adalah ikon kuliner yang mesti Anda kunjungi selama berada di Tanjungpinang. berbagai menu lokal yang khas mulai dari aneka masakan seafood, Chinese food hingga berbagai sajian khas Melayu tersedia di sini. Lokasi tempat makan yang terbuka ini mulai ramai dikunjungi saat menjelang malam. Namun tempat ini sejatinya sudah mulai beraktifitas, sejak pukul 16.00 WIB dan biasanya tutup pukul 00.00 WIB bisa bisa samapai pukul 02.00. Lokasinya mudah ditemui, dari Pelabuhan Sri Bintan Pura dapat dijangkau dalam hitungan menit. Untuk menuju ke lokasi ini Anda dapat menggunakan sarana transportasi taksi, ojek atau meminta bantuan pihak hotel yang memiliki layanan transportasi lokalnya. Sejak lama, sentra kuliner ini dikenal luas tidah saja pencinta kuliner local tetapi mancanegara. Umumnya mereka terkesan karena makanannya yang beragam dan enak serta suasananya yang khas dan nyaman. Makanan yang yang bisa di pesan berupa seafood, nasi goreng, asam pedas, sate dan masih banyak lagi. Jangan lupa untuk mencoba soup ikan atau asam pedas nya

Melayu Square
Sentra kuliner bernama Melayu Square ini berada di kawasan Tepi Laut yang hanya berjarak tidak lebih darisatu kilometer dan Pelabuhan Sri Bintan Pura. Melayu Square dikenal sebagai pusat jajanan Melayu seperti laksa, teh tarik, gonggong rebus, sup ikan, ikan asam pedas, ikan bakar danpenganan local khas lainnya. Sangat direkomendasikan untuk dikunjungi, terutama bagi Anda pencinta kuliner dan penikmat suasana tepi laut. Mulai buka sejak sore, kawasan ini mengakhiri aktifitas sekitar pukul 12.00 malam. Anda akan menikmati hidangan di udara yang terbuka dengan angin laut yang berhembus sepoi sepoi Teh Tarik menjadi minuman yang paling di gemari masyarakat setempat juga pendatang
Jam Buka : 17.00 hingga larut malam
Makanan Populer : seafood
Minuman Populer : Teh Tarik

Meja Tujuh
Dari namanya memang agak unik, seolah olah hanya ada tujuh buah meja, Terletak di jalan kawasan Jalan Tugu Pahlawan, Meja Tujuh termasuk ikon kuliner Tanjungpinang yang ramai dikunjungi. Mulai buka sejak sore hingga tengah malam, Meja Tujuh terkenal karena sajian masakan seafood-nya yang bercitarasa khas. Namun kalau Anda kurang menyukai makanan laut tak perlu khawatir karena di tempat ini, Anda juga dapat menjajal rupa-rupa masakan Chinese food dan Melayu. Umumnya, kedai-kedai yang ada selain menempati ruko-ruko di sepanjang kanan dan kiri jalan, sehingga sambil menyantap hidangan kesukaan, Anda bias meninkmati hingar-bingar suasana malam Kota Tanjungpinang.

Jalan Bali
Di sekitar kawasan Jalan Bali ini terdapat sebuah gerai atau kedai yang menjajakan berbagai macam kue, panganan dan makanan ringan yang di suguhkan kepada para pembeli, Kue Lumpur, epok epok, kue bingke, tepung gomak,  dan masih banyak lagi kue kue yang tersedia disini. Gerai ini selalunya di buka pada jam 14.00 hingga pukul 18.00 petang untuk yang pagi hari sebuah kedai yang berlokasi tidak jauh dari lokasi ini sebuah Gerai yang diberinama “Kedai Kopi Penyengat” juga menjajakan berbagai macam kue dan panganan lokal juga yang buka dari jam 07.00 hingga petang

Rumah Makan Melayu Sarbana
Tempat makan yang sederhana yang terbuat dari kayu bulat dan tediri dari beberapa bangunan yang terpisah pisah ini berlokasi di daerah Kampung Bulang. Berdiri diatas lautan yang dikenal dengan daerah sungai Carang. Rumah makan ini menyajikan berbagai makanan khas masakan melayu dengan bahan baku seafood, menu favorit di sini ialah Ikan Sembilang Asam Pedas, Sotong Masak  itam, Kepiting saus, Gonggong dan banyak lagi pilihan
Banyak tamu yang kami bawa kesini memberikan komentar yang sangat positif dan beberapa diantaranya ingin kembali lagi ke rumah makan ini
Buka : 10.00 hingga 21.00
Makanan Favorit : Ikan Asam Pedas (Sembilang / Ikan Merah), Sotong Masak Hitam

Soup Ikan Aulia
Rumah makan ini tidak begitu besar dengan menempati sebuah ruko lantai dasar saja yang berlokasi di Batu 4 menjadi lokasi makan siang yang mampu memanjakan lidah Anda, dengan menu khas Soup Ikan merah kadang kala Anda boleh meminta tambahan telur ikan sebagai tambahan menu makan siang Anda, Rumah makan ini hanya bka di siang hari, hidangan makan siang Anda bisa semakin nikmat dengan makanan penutup berupa kue khas Bingke Bakar yang biasanya tersaji di meja makan dan juga gurihnya peyek kacang
Buka :10.00 hingga 16.00
Makan Favoorit : Soup Ikan

Restaurant Seafood
Tanjungpinang memang sangat dikenal dengan berbagai restaurant seafood yang terdapat di beberapa titik, masing masing restaurant memiliki kekuatan dan cita rasa masing masing, beberapa restaurant sefood dengan kapasitas tempat duduk yang besar antara lain : Restauran Seafood Shangrilla, Restaurant Nelayan, Restaurant Sei Nam, dan masih banyak lagi

Otak-otak
Otak otak adalah makanan khas Tanjungpinang dan Kepri. Otak-otak dibuat dari daging ikan yang dihaluskan dan dibumbui. Kemudian daging ikan tersebut dibungkus atau dibalet dengan menggunakan daun kelapa, lalu di bakar. Dan siap di santap….
Otak otak banyak di jumpai di tepi jalan menuju pelabuhan dan juga sering tersaji di berbagai rumah makan dan restaurant khususnya yang menjual makanan hasil laut

Nasi Lemak
Nasi lemak adalah Nasi yang dimasak dengan campuran santan lalu dibungkus menggunakan daun pisang, dengan irisan timun, teri kering kecil (ikan Tenggiri), kacang goreng, telur rebus, dan saus pedas panas (sambal) pada intinya. Makanan ini disajikan di meja makan di kedai kedai kopi di sekitar Tanjungpinang yang sering di konsumsi oleh masyarakat setempat untuk sarapan pagi. Nasi lemak terkadang di makan dengan campuran telur atau ikan teri atau masyarakat setempat menyebutnya ikan bilis. Nasi lemak biasanya di bungkus dengan menggunakan daun pisang. Anda disarankan untuk bertanya kepada penjual karena sajian Nasi Lemak dan nasi dagang hampir mirip dari segi bungkus karena sama sama menggunakan daun pisang
Jam Buka kedai Kopi : 07.00 hingga 17.00
Lokasi : Jalan Merdeka, Jalan Bintan, Pasar

Mie Lendir
Mie lendir adalah mie rebus yang disiram  kuah kacang, mirip dengan kuah sate tetapi berbeda dalam rasa. Di Tanjungpinang, Mie lendir sangat Populer dan menjadi salah satu menu sarapan favorit dapat di temui di berbagai kedai kopi
Lokasi : Jalan Bintan, Bintan Center

Gonggong
Gonggong biasanya disajikan dengan direbus dan dimakan bersama-sama dengan saus khusus yang memiliki aroma khas. Kunjungan Anda di Tanjungpinang tampak tidak terasa lengkap, terutama bagi pecinta kuliner, jika tidak mencicipi makanan ini khusus. Gonggong adalah makanan dari hasil laut yang memilii nilai protein yang tinggi, banyak orang orang lokal mengakui setelah memakan gonggong akan meningkatkan semangat untuk membuat anak. Gonggong dapat ditemukan di berbagai restaurant seafood, akau, dan Melayu Square

Ikan Asam Pedas
Makanan ini dikenal memiliki aroma yang baik dengan kuah kaldu merah dan pedas. Rasa pedas yang berasal dari cabai paprika putih dan jahe dicampur menjadi satu, dipastikan lidah Anda pada waktu Anda mencicipinya akan terasa nikmat.

Roti Prata
istilah roti prata biasanya berasal dari tepung yang dicampur air lalu digoreng dengan minyak yang sedikit dan tipis seperti dadar telur. Roti Prata tersebut biasanya dimakan dengan kuah kari ayam.

Teh Tarik
Teh tarik ini sama dengan teh susu, tetapi dalam penyajian nya sangat beda, yaitu sebelum di hidangkan teh susu ini di pindahkan ke gelas yang lain sampai beberapa kali, sehingga teh tersebut memiliki gelembung-gelumbung udara… Teh tarik ini bias dicampur dengan es batu sehingga pas saat di damping dengan makanan nasi Lemak dan sebagainya

Tuesday, December 13, 2011

Bunda Tanah Melayu – Benteng Jati Diri Anak Negeri

 (catatan perjalanan "fam trip" di Kabupaten Lingga oleh Sapril Sembiring)

Perjalanan ke Lingga di lalui dengan menggunakan sebuah kapal yang berkecepatan tinggi dengan jarah tempuh lebih kurang 4 jam. Untaian pulau pulau sekitar yang bertebaran di sepanjang jalan menuju daerah ini menjadi pemandangan yang mengesankan ditambah lagi kelong kelong “alat tangkap ikan yang berbentuk rumah di bentangan laut nya yang bening turut menjadi daya tarik pandangan mata  dari kapal yang ditumpangi oleh para peserta dan undangan yang mengikuti acara Lawatan Sejarah dan Gelar Budaya Melayu Kabupaten Lingga

Lawatan Sejarah dam gelar Budaya Melayu Kabupaten Lingga merupakan acara yang di prakarsai oleh Pemereintah Kabuptan Lingga melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata . Kegiatan ini bermula dari acara penyambutan di Pelabuhan Tanjung Buton.
Sambutan “tebar beras kunyit’” dan sajian kompang mengawali sambutan masayarakat negeri itu kepada seluruh tetamu yang datang yang baru saja menginjakkan kaki nya di Bunda Tanah Melayu iringian para tetamu pun di sambut dengan sebuah atraksi silat yang menggambarkan kemeriahan dan rasa senang bagi masyarakat setempat atas kunjungan para tetamu
Para tetamu di ajak menuju sebuah bangunan besar yang disana sudah menunggu Bupati dan para pejabat daerah Kabupaten lingga yang dengan hangat menyalami satu persatu tetamu yang datang. Sugguhan makanan ringan menemani para tetamu sambil mendengarkan Bupati Lingga H. Daria menyanyikan lagu Lingga ...... yang merupakan buah hasil karya beliau dibantu dengan beberapa seniman dan penyanyi lokal dari Kabupaten Lingga
Tidak begitu lama para tetamu kemudian di arahkan menuju lapangan Hang Tuah untuk mengikuti prosesi “tepuk tepung tawar” , bagi masyarakat setempat tepuk tepung tawar ini merupakan ritual untuk menyambut tamu dengan hati yang suci dan memohon keberkahaan
Selanjutnya hidangan berupa kue kue lokal dengan minuman khas lokal menjadi santapan yang nikmat yang mempu menghilangkan rasa penat tetamu yang sudah menempuh perjalanan panjang dari daerah asalnya. Tetamu yang hadir ada yang dari Singapura, Malaysia, Brunai, Pekan Baru, Selat Panjang, Jakarta, tanjungpinang dan Kalimantan.
Setelah beristirahat sejenakbersihkan diri di Hotel yang sudah dipersiapkan oleh panitia peserta kemudian di suguhkan dengan hidangan makan malam dengan menu yang khas dengan cita rasa Melayu. Berbagai masakan khas di sajikan di meja prasmanan yang telah tersusun rapi untuk di santap yang mampu meberikan nuansa kembali ke kampung begitulah beberapa peserta terkesan .


Seorang pembawa acara tampil diatas panggung dengan logat Melayu yang kental sang pembawa acara mengundang semua tetamu untuk mengambil tempat di panggung yang sudah dipersiapkan, humor dan pantun yang sangat menghibur di sajikan oleh sang pembawa acara yang membuat acara itu menjadi semarak
Dalam Laporannya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bapak Djunaidi Ajam menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan semangat Kabupaten Lingga untuk menjadi “Bunda Tanah Melayu”. Acara Lawatan Sejarah dan Gelar Budaya Melayu Kabupaten Lingga 2011 di ikuti oleh peserta dari Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, Pekan Baru, Kalimantan dan Tanjungpinang.
Bupati Lingga Bapak H. Daria dalam sambutan sekapur sirihnya menyampaikan Pemerintah Kabupaten Lingga senantiasa berupaya dan bekerja keras agar prediket Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu tersebut semakin kuat-kawi dan diakui secara luas. Seminar bersempena helat bertajuk “Lawatan Sejarah dan Gelar Budaya” yang dilaksanakan pada tahun 2011 ini diharapkan menjadi peristiwa penting dalam upaya menegaskan dan mengukuhkan Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu. 
Sajian kesenian menjadi hiburan yang menambah semaraknya acara tersebut di tambah lagi sajian kesenian “Joget Dangkong” yang di bandu oleh seorang “Bapok” yang kocak dengan lagu dan goyangnya membuat para tetamu yang hadir terpingkal pingkal ketawa. Tanpa terasa malam semakin larut dan akhirnya acara pembukaan pun telah selesai yang waktu nya untuk beristirahat


Pagi itu cuaca agak mendung suasana alam yang segar dengan pemandangan gunung Daik yang konon bercabang tiga namun telah patah satu yang sering dikenang orang melalui pantun

Pulau pandan jauh ke tengah
Gunung Daik Bercabang tiga
Hancur badan di kandung tanah
Budi Baik di kenang jua

Begitulah orang orang mengenang gunung Daik ini yang menurut legenda setempat bahwa Pulau Pandan itu merupakan patahkan cabang tiga gunung tersebut.  Keindahan alam dengan bentangan bukit yang masih hijau dan udara pagi yang segar menjadi hidangan mata yang memberikan ketenangan hati. Di sebuah kedai kopi di pinggiran sungai Lingga menjadi tempat kami untuk menikmati sarapan pagi secangkit kopi dan “kwe tiaw” goreng menjadi hidangan yang kami santap pagi itu. Kami yang tergabung dalam satu rombongan “Media dan Travel Agent Fam Trip” memang terpisah dari jadwal yang utama bagi para sejarahwan, seniman, pelajar dan tokoh tokoh masyarakat dimana khusus bagi mereka jadwal pagi itu akan mengikuti seminar di Balairung Seri yang lokasinya bersebelahan dengan lokasi situs Istana Damnah, sedangkan rombongan kami akan mengunjungi objek wisata desa Resun.



Desa Resun sebuah desa yang terletak di utara Pulau Lingga yang berjarak tidak jauh dari Kota Daik dengan jarak tempuh lebih kurang 30 (tigapuluh ) menit. Di Desa ini kami mengunjungi keindahan alam yang dimiliki Kabupaten lingga yaitu Air terjun Resun. Suara gemuruh air memecah keheningan hutan yang di tumbuhi pepohonan yang rindang. Kebeningnan air nya menggoda kami untuk segera turun dan menikmati kesegaran air yang berasal dari gunung Resun. Keindahan alam yang alami sangat terasa di kawasan ini hanya ada beberapa gubuk atau pondok dan sebuah bangunan toilet yang sudah di bangun oleh Pemerintah Kabupaten Lingga. Menurut pemandu wisata lokal bahwa air terjun resun ini sudah dikenal sejak lama dan sering di selenggarakan event tahun “mandi Syafar” yang menurut masyarakat setempat merupakan ritual yang mampu menjauhkan diri dari bencana dan keburukan. Beberapa dari peserta menyempatkan diri untuk berenang dan menikmati segarnya air asli pegunungan itu.

Matahari sudah mulai tegak di atas kepala sehingga kami pun menuju ke kawasan Istana Damnah sebab di lokasi ini kami dijadwalkan untuk makan siang. Sajian makan siang pun sudah dipersiapkan dengan gaya melayu kuno yaitu “Makan Berkas” yang hal ini sudah jarang di lakukan orang. Sajian makan yang terhidang secara “lesehan” dengan jumlah sajian makan untuk jumlah 5 (lima) orang di gelar di lantai yang beralaskan karpet dan permadani, sekitar 50 berkas atau untuk kapasitas 250 orang makan siang telah tersaji di replika Istana Damnah dengan hiasan kain di dinding dengan warna khas Melayu yaitu Kuning, Merah dan Hijau. Makan siang pun terselesaikan dengan baik dan nikmat yang memberikan kesan tersendiri begitu indahnya adab yang diajarkan oleh para leluhur leluhur yang terdahulu, dalam makan pun ada adab nya.



Program Fam Trip pun di lanjutkan dengan mengunjungi situs Istana Damnah yang lokasinya hanya 50 Meter dari lokasi seminar dilokasi ini masih terlihat pondasi bekas bangunan istana damnah yang pada zamannya sangat memiliki peran penting yang sering digunakan Sultan untuk pertemuan dan acara acara kerajaan. Namun kondisi saat ini yang bisa terlihat hanya pondasi dan bekas tangga depan istana karena bangunan atasnya dahulu terbuat dari papan dan kayu. Di lokasi ini seorang pramuwisata lokal menjelaskan sejarah dan cerita tentang kemegahan dan peran bangunan itu. Perjalanan kami lanjutkan menuju pelabuhan Tanjung Buton untuk menuju ke Pulau Mepar sebuah pulau yang saat ini sedang di gesa dan di kembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Lingga sebagai Desa Wisata. Perjalanan menuju desa ini di tempuh dengan menggunakan “pompong” sebuah perahu kayu dengan mesin dengan jarah tempuh lebih kurang hanya 8 menit saja dari Pelabuhan Tanjung Buton di Pulau Lingga. Sesampainya kami disana kebanggaan kami rasa kan karena di sambut seperti paduka raja atau bangsawan karena di pelabuhan itu sudah berdiri 14 orang ibu ibu dengan senyuman dan semangat yang tinggi menabuh kompang yang dengan suka cita menyambut rombongan yang datang ke negerinya. 


 

Sekumpulan anak anak dengan senyuman dan keceriaan terpancar di wajah mereka turut berbaris di sisi kiri dan kanan jalan menuju desa menyambut kedaatangan para tetamu. Suara gemuruh kompng yang terus menerus mengiringi perjalanan bersaut sautan dan atraksi silat yang diiringi suara gendang dan gong pun menghadang perjalan kami untuk menunjukan bunga bunga silat yang di miliki oleh seorang pemuda yang gagah dan berani. Dengan gerak dan langkah yang lembut namun kokoh dipertunjukan kepada tetamu sebagai rasa sukacita dan menunjukan kepada tetamu rasa aman dan nyaman begitulah yang dirasakan oleh tetamu yang datang.

Mengunjungi makam dan benteng di pulau ini menjadi beberapa aktifitas yang bisa di lakukan, di sisi lain ada atraksi yang menarik yaitu melihat prosesi “ikan tamban salai” yaitu menjadi kan ikan salai dengan cara memanggang dan mengasapi ikan ikan tamban. 

Seorang ibu separuh bayu di depan perapian dengan barisan ikan ikan tamban membolak balikan ikan ukan yang sudah di tusuk dengan kayu. Proses pengasapan biasanya memakan waktu berjam jam yang apinya tidak begitu besar dengan sabut kelapa untuk mebrikan rasa aroma asap sehingga menempel di ikan ikan yang di panggang. Ikan ikan ini biasanya di jual seharga Rp. 25.000 untuk sekitar 50 ekor ikan dengan ukuran lebih kurang 5 sampai dengan 10 centimeter.

Tari Ambung itulah satu atraksi yang menarik di desa ini karena para pemainnya seolah olah tersugesti sehingga di luar kendalinya keranjang yang di pegang seolah olah bergerak tanpa di gerakkan oleh si pemain tari ambung tersebut. Permainan ini di awali dari pengasapan keranjang dengan sebuah dupa dan kemenyan yang di bakar dengan arang. Diatas keranjang tersebut terdapat 2 buah kayu lesung. Permainan ini biasanya dilakukan masayrakat pada saat malam purnama dan dijadikan sebagai permainan untuk mengisi waktu waktu luant untuk menghibur dan menjaga keutuhan silaturahmi masyarakat setempat.


Keramanhan masyarakat sangat terasa sekali di desa ini dan keramahan itu kami rasakan dengan sajian beberapa makanan ringan yang sudah dipersiapkan disebuah panggung dengan minuman yang terbuat dari timun. Buah pisang, pepaya dan sauh menjadi hidangan yang menyegarkan ditambah lagi ikan tamban salai yang sebelumnya kami saksikan proses pengasapannya telah tersaji untuk santapan para tetamu.

Matahari hampir terbenam di upuk barat sehingga kami pun harus bergegas kembali ke Kota Daik untuk persiapan Malam penutupan. Dengan menggunakan perahu kayu kami pun kembali ke Pulau lingga dan dilanjutkan dengan Bus untuk melihat ataraksi Gasing. 
Permainan gasing ini juga memiliki aturan dimana permainan tradisional bagi masyarakat melayu ini memiliki peraturan dan di mainkan secara berkelompok yang terdiri dari 5 (lima) orang. Konon katanya zaman dahulu permainan ini menggunakan ilmu ilmu kedikjayaan dalam permainan Gasing yang sampai sampai gasing yang selalunya terbuat dari kayu pilihan yang memiliki kekuatan pun bisa terbelah dan pecah ..sungguh menakjubkan. Kesabaran dan ketelitian dituntut untuk permainan ini bagi yang tidak terlatih gasing bisa bisa tidak berputar dan memungkinkan mengenaik orang lain dan berakibat luka.




Malam pun tiba disaat Gerhana Bulan tepatnya tanggal 10 Desember 2011 di Lapangan Hang Tuah Kota Daik menjadi saksi pembacaah Warkah atau pendeklarasian “ Lingga – Bunda Tanah Melayu” dihadapan ratusan orang yang memadati lapangan tersebut. Semangat yang kuat dengan rasa tanggung jawab yang tinggi di harapkan segenap elemen masyarakat dan pemerintah di Kabupaten ini untuk menyandang predikat Bunda Tanah Melayu Benteng Jati diri anak Negeri.





Menurut saya bahwa Lingga memiliki berbagai alasan yang kuat dan mendasar untuk terus menjadikan Negeri ini sebagai Bunda tanah Melayu, Beberapa hal hal yang saya lihat dan rasakan selama mengikuti pLawatan Sejarah dan Gelar Budaya Melayu tersebut yang mampu mendukung predikat Bunda Tanah Melayu antara lain :


  1. Disetiap kamar Hotel tersedia sejadah
  2. Rumah rumah panggung masyarakat masih di hiasi dengan ukiran melayu
  3. Tutur sapa, dan adab masayrakat nya masih kental dengan tradisi melayu yang menerima tetamu (Hospitality)
  4. Logat dan gaya bahasa

 Tahniah dan Sabas kepada Masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Lingga semoga mampu menjadikan negeri nya sebagai benteng Jati diri masyarakat melayu yang bertamadun yang senantiasa kokoh akan tantangan globalisasi yang sedang menghadang .......................




SS

Saturday, December 3, 2011

Lawatan Sejarah - Menuju Bunda Tanah Melayu

Istilah “Bunda Tanah Melayu” pertama kali muncul dalam kegiatan Perkampungan Penulis Melayu Serumpun yang dilaksanaan di Daik Lingga pada tahun 1999. Helat yang diprakarsai Prof. Dr. Yusmar Yusuf dan diikuti para penulis dari negara dan daerah rumpun Melayu tersebut menjadikan “Bunda Tanah Melayu” sebagai tex-line atau tema kegiatan. Sejak saat itu, sebutan “Lingga Bunda Tanah Melayu” menjadi petah diucap dan disebut di kalangan masyarakat.

Lalu pada tahun 2009, di Daik Lingga dilaksanakan pula kegiatan Perkampungan Penulis Melayu Serumpun yang diadakan Ikatan Keluarga Lingga (IKL) bekerjasama dengan Maklumat Kebudayaan Melayu Riau Pulau Penyengat – Tanjungpinang. Pertemuan ini kemudian memberikan julukan Daik Lingga sebagai Negeri Bunda Tanah Melayu yang Bertamadun Melayu.

Mengukuhkan Daik Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu sangatlah beralasan, karena kawasan ini dahulunya merupakan pusat kerajaan Melayu yang mempunyai peranan penting dalam perjalanan sejarah, pentadbiran dan peradaban dunia Melayu. Peranan penting tersebut mewariskan bukti peradaban yang adiluhung seperti karya senibudaya, situs bersejarah, bahasa dan pola hidup serba Melayu yang terpelihara sampai kini.

Pemerintah Kabupaten Lingga senantiasa berupaya dan bekerja keras agar prediket Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu tersebut semakin kuat-kawi dan diakui secara luas. Seminar bersempena helat bertajuk “Lawatan Sejarah dan Gelar Budaya” yang dilaksanakan pada tahun 2011 ini diharapkan menjadi peristiwa penting dalam upaya menegaskan dan mengukuhkan Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu, serta diharapkan dapat memberi masukan dan argumen yang kuat sehingga prediket Bunda Tanah Melayu semakin pantas disandang Lingga. Sedangkan rangkaian kegiatan gelar budaya yang diikuti kelompok seni dari Lingga dan negeri-negeri Melayu lainnya diharapkan dapat memberi seri gemilang acara ini.

Selain seminar, helat ini mengadakan pementasan kesenian yang dilaksanakan di berbagai tempat di Lingga. Dengan disebarnya pementasan kesenian di berbagai tempat, diharapkan masyarakat tidak perlu berbondong-bondong lagi pada satu titik kegiatan saja, dan juga dapat menyentuh masyarakat yang berada di kampung-kampung. Helat ini diperuntukkan bagi seluruh masyarakat Lingga, sehingga wajar bila masyarakat harus didatangi.  Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu telah menjadi wacana di tengah masyarakat, dan wacana itu perlu dipertegas melalui seminar.

Waktu Kegiatan :

5 Desember hingga 12 Desember 2011 

Lokasi 

Kabupaten Lingga ( Daik Lingga) 

EMKA Tours & Events diberi kepercayaan untuk menghimpun Pelaku Media dan Travel Agent untuk mengikuti kegiatan ini dalam rangka Publikasi dan Promosi event yang bersangkutan. Bagi Pihak media atau Travel agent yang berminat untuk ikut kegitasn ini silahkan menghubungi kami di 0812 619 7586 (Sapril Sembiring) 

Kegiatan khusus bagi Media dan Travel Agent akan berlangsung dari 9 hingga 11 Desember 2011 

Terima kasih 
SS